Berbeda dengan Prambanan, Candi Sewu merupakan contoh monumental dari arsitektur Buddha Mahayana di Jawa Tengah. Terletak tidak jauh dari Prambanan, Candi Sewu menyuguhkan kompleks percandian yang terdiri dari ratusan candi pendamping yang tersusun simetris mengelilingi candi utama. Kompleks ini menekankan prinsip kosmologi Buddha, di mana struktur candi mencerminkan perjalanan spiritual menuju pencerahan. Relief dan arca yang terdapat di Candi Sewu memperlihatkan keterampilan tinggi para pengrajin pada masa Mataram Kuno, sekaligus menjadi bukti adanya interaksi budaya Hindu-Buddha yang dinamis pada era tersebut.
Selain candi utama, situs Prambanan dan Sewu juga dilengkapi dengan bangunan pendukung seperti lumbung dan bubrah. Lumbung, yang dikenal sebagai gudang penyimpanan padi dan hasil bumi, memiliki peran penting dalam mendukung kelangsungan ekonomi dan ritus agraris masyarakat kuno. Struktur lumbung dibangun dengan prinsip stabilitas dan ventilasi yang baik, menunjukkan pemahaman masyarakat terhadap fungsi praktis sekaligus estetika bangunan. Sementara bubrah, atau bangunan candi yang mengalami kerusakan, memberikan perspektif penting bagi penelitian arkeologi. Kondisi bubrah tidak hanya menjadi indikasi usia dan peristiwa alam yang mempengaruhi situs, tetapi juga menjadi sumber informasi untuk rekonstruksi sejarah dan pelestarian warisan budaya.
Melalui kombinasi candi utama, lumbung, dan bubrah, kompleks Prambanan-Sewu menawarkan pengalaman menyeluruh bagi pengunjung. Tidak hanya sebagai destinasi wisata, situs ini menjadi laboratorium hidup bagi kajian sejarah, arkeologi, dan antropologi. Pemahaman terhadap struktur, fungsi, dan simbolisme masing-masing elemen memperkuat kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya serta menghidupkan narasi masa lalu yang masih relevan bagi masyarakat modern. Dengan demikian, Prambanan dan Sewu bukan sekadar warisan batu dan relief, tetapi juga cerminan kecerdasan, religiositas, dan kreativitas peradaban kuno Jawa.



Posting Komentar