Contoh Cerita Pendek

Hebat Tak Harus Diakui

Pagi masih basah oleh embun. Langit belum benar-benar terang ketika Raka keluar dari rumahnya yang sederhana. Ia menggantungkan tas lusuh di bahu kirinya dan membawa sapu lidi di tangan kanan. Sebelum pergi ke sekolah, ia menyapu halaman masjid seperti biasa.

Tak ada yang menyuruh. Tak ada yang memperhatikan. Tapi ia tetap melakukannya, setiap hari.
Setelah itu, ia berjalan kaki ke SD tempatnya mengajar. Sekolah kecil dengan dinding yang mulai kusam dan bangku-bangku yang banyak berlubang. Gaji sebagai guru honorer tak seberapa, bahkan sering terlambat dibayar. Tapi Raka tak pernah mengeluh.

Di kelas, ia tersenyum menyambut murid-muridnya yang datang dengan kaki penuh debu dan mata penuh harapan. Ia mengajar dengan sepenuh hati, menyisipkan nilai-nilai hidup di antara pelajaran matematika dan bahasa.

“Pak, kenapa Bapak enggak pindah ke kota aja? Di sana gajinya lebih besar,” tanya Nanda, murid kelas enam, suatu hari.

Raka tersenyum. “Karena di sini lebih butuh.”

Jawaban itu singkat, tapi mengandung makna yang dalam.

Dulu, Raka memang sempat mendapat tawaran kerja dari kota. Sebuah sekolah swasta besar tertarik pada cara mengajarnya yang kreatif. Tapi ia menolaknya. Bukan karena ia tak mau maju, tapi karena ia tahu, jika semua orang berlari ke kota, siapa yang akan tinggal untuk membangun desa?

Orang-orang di kampung sering melihat Raka lewat, tapi tak pernah benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Ia bukan tipe orang yang suka bercerita atau memamerkan apa pun. Ia datang, bekerja, pulang, dan esoknya mengulang lagi.

Suatu malam, di acara peringatan Hari Guru, kepala desa membacakan nama-nama guru berprestasi. Nama Raka tidak disebutkan. Ia duduk di belakang, menepuk tangan untuk rekan-rekannya yang mendapat penghargaan. Tak ada raut kecewa di wajahnya.

Setelah acara selesai, seorang guru muda menghampirinya.

“Raka, kamu gak apa-apa? Padahal kamu juga layak dapat penghargaan.”
Raka hanya tersenyum. “Saya tidak mengajar untuk diakui. Cukup tahu bahwa anak-anak itu tumbuh jadi orang baik, itu sudah lebih dari cukup.”

Angin malam berembus pelan. Di tengah dunia yang sibuk mencari sorotan, Raka memilih jadi lilin kecil di sudut gelap. Diam-diam menyala, diam-diam menghangatkan.

Karena baginya, Hebat Tak Harus Diakui.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama